I am moving
Nuwun.
Rasulullah SAW, bersabda :
"Tidak ada mata pencaharian yang lebih baik daripada yang diperoleh dengan tangannnya sendiri, sehingga apa saja yang digunakan untuk dirinya sendiri, untuk anaknya dan untuk pelayannya, baginya merupakan sedekah.." (HR.Ibnu Majah dari Miqdam bin Ma'dikariba)
"Sungguh lebih baik bagi seseorang membawa seikat kayu bakar dipunggungnya (lalu menjualnya) daripada meminta-minta kepada orang lain yang mungkin akan memberinya atau menolaknya." (HR.Malik, Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasai)
Anar r.a. meriwayatkan bahwa seorang Anshar pernah datang kehadapan Rasulullah SAW dan meminta sesuatu (mengemis),
Rasulullah SAW bertanya kepadanya, "Apakah di rumahmu benar-benar tidak ada apapun?"
Ia menjawab, "Ya Rasulullah, di rumah hanya ada kantong kain terpal, satu bagian saya pakai, satu bagian lagi saya bentangkan untuk istirahat tidur dan sebuah gelas yang saya pakai untuk minum."
Rasulullah SAW bersabda, "Bawalah kedua barang itu kepadaku."
Orang Anshar itupun membawanya kehadapan Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW mengambil barang itu dan mengumumkannya, "Siapa yang akan membeli barang-barang ini dariku?"
Seseorang menjawab, "Aku akan membeli keduanya seharga satu dirham."
Rasulullah SAW bertanya (menawarkan) beberapa kali, "Siapa yang mau membeli dengan harga yang lebih tinggi?"
Akhirnya seseorang berkata, "Aku akan membelinya seharga dua dirham."
Kemudian Rasulullah SAW menjual barang-barang tersebut kepadanya dan memberikannya dua dirham itu kepada orang Anshar tadi serta bersabda, "Belilah makanan dengan satu dirham dan beri makanlah keluargamu. Satu dirham lainnya belikanlah kapak dan bawalah kapak itu kepadaku."
Orang Anshar itu kemudian membeli kapak dan membawanya kapak itu kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian mengambil kapak itu dengan tangannya yang penuh berkah memasangkan pegangan (tangkai) pada kapak itu lalu menyerahkan kepada orang itu seraya bersabda, "Pergilah, potonglah kayu dan juallah. Jangan datang kepadaku sebelum lima belas hari."
Orang itu melakukan apa yang diperintahkan dan datang lagi setelah lima belas hari dengan membawa uang sepuluh dirham. Dengan uang itu ia membeli pakaian dan makanan. Rasulullah SAW bersabda, "Ini lebih baik bagimu daripada engkau muncul pada hari Kiamat dengan tanda di wajahmu yang menunjukkan bahwa engkau adalah seorang pengemis."
Hadits tersebut maksudnya adalah, seseorang jangan menjadi beban orang lain dengan jalan meminta-minta, kecuali dalam keadaan sangat terpaksa yang diatur oleh syariat. Pekerjaan kasar janganlah dipandang rendah dan memalukan. Karena itulah dalam hadits ditekankan agar kita tidak memandang rendah terhadap suatu pekerjaan yang halal, sehingga dengan bekerja kita dapat memenuhi kebutuhan hidup kita dan kebutuhan hidup orang-orang yang berada dibawah tanggungan kita, juga kita dapat bersedekah.
Sumber : "Keutamaan Mencari Nafkah Menurut Cara Rasulullah" Penulis : Maulana Muhammad Zakariyya al Kandhalawi, halaman 23-24, Pustaka Ramadhan, Mei 2004
Puji syukur ke hadirat Alloh SWT, telah lahir putri kami Aisya Nurul Izzah Zakaria pada hari Jumat 27 April 2007.Padahal sudah agak lama, tapi baru bisa woro-woro sekarang. Hehe.
Last but not least, mohon doa dan restunya semoga Izzah menjadi muslimah yang baik, menjadi pribadi yang bisa menjaga kehormatan dirinya, orang tua, dan agamanya.
Pagi itu, di bulan Januari 2007, aku dekati ibunya anak-anak yang nampak lunglai dihantam rutinitas harian. Air bening mengalir di sudut kedua matanya yang indah. Lirih nyaris tak bersuara ia berkata, "Aku tidak sanggup lagi." Sigap kugendong yang terkecil dan kusuapi ia dengan bubur bayu, lahap dan penuh keriangan, kami merasakan sebagai hiburan tersendiri, sambil berharap kelak ia menjadi seperti para cucu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hasil didikan putri tercinta Fatimatuzzahra radhiyallahu 'anha.
Terkenang aku kepada kisah putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang satu ini. Sebagaimana yang diungkapkan dengan indahnya oleh ustadz Fauzil Adhim dalam bukunya Disebabkan oleh Cinta Kupercayakan Rumahku Padamu. Suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjenguknya, ia sedang membuat tepung dengan alat penggiling sambil menangis. Haru, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, "Kenapa menangis? Mudah-mudahan Allah tidak membuat matamu menangis lagi." Fatimah pun menjawab, "Ayah, aku menangis hanya karena batu penggiling ini, dan lagi aku hanya menangisi kesibukanku yang silih berganti."
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian mengambil tempat duduk di sisinya. Fatimah berkata, "Ayah, demi kemuliaanmu, mintakan kepada 'Ali supaya membelikan seorang budak untuk membantu pekerjaan-pekerjaanku membuat tepung dan menyelesaikan pekerjaan rumah."
Setelah mendengar perkataan putrinya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat penggilingan. Beliau memungut segenggam biji-bijian gandum dimasukkan ke penggilingan. Dengan membaca bismillahirrahmaanirrahiim maka berputarlah alat penggiling itu atas ijin Allah. Beliau terus memasukkan biji-bijian itu, sementara alat penggiling terus berputar sendiri, sambil memuji Allah dengan bahasa yang tidak dipahami manusia. Ini terus berjalan sampai biji-bijian itu habis.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada alat penggiling itu, "berhentilah atas izin Allah." Seketika alat penggiling itu berhenti. Beliau berkata sambil mengutip firman Allah, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya, dan mereka selalu mengerjakan segala yang diperintahkan" (QS. At Tahrim: 6)
Merasa takut jika menjadi batu yang kelak masuk neraka, tiba-tiba batu itu bisa berbicara atas izin Allah. Ia berbicara dengan bahasa Arab yang fasih. Selanjutnya batu itu berkata, "Ya Rasulullah, demi Dzat Yang Mengutusmu dengan hak menjadi Nabi dan Rasul, seandainya engkau perintahkan aku untuk menggiling biji-bijian yang ada di seluruh jagat Timur dan Barat, pastilah akan kugiling semuanya." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda, "Hai batu, bergembiralah kamu. Sesungguhnya kamu termasuk batu yang kelak dipergunakan untuk membangun gedung Fatimah di surga." Seketika itu batu penggiling bergembira dan berhenti.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada putrinya, Fatimah Az Zahra, "Kalau Allah berkehendak, hai Fatimah, pasti batu penggiling itu akan berputar sendiri untukmu. Tetapi Allah berkehendak mencatat kebaikan-kebaikan untuk dirimu dan menghapus keburukan-keburukanmu serta mengangkat derajatmu. "Hai Fatimah, setiap istri yang membuatkan tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah mencatat baginya memperoleh kebajikan dari setiap butir biji yang tergiling, dan menghapus keburukannya serta meninggikan derajatnya. Hai Fatimah, setiap istri yang berkeringat di sisi alat penggilingnya karena membuat bahan makanan untuk suaminya, maka Allah memisahkan antara dirinya dan meraka sejauh tujuh hasta.
Hai Fatimah, setiap istri yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisirkan rambut mereka dan menyucikan baju mereka, maka Allah mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang yang memberi makan seribu orang yang sedang kelaparan, dan seperti pahala orang yang memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
Hai Fatimah, setiap istri yang mencegah kebutuhan tetangganya, maka kelak Allah akan mencegahnya (tidak memberi kesempatan baginya) untuk minum air dari telaga Kautsar pada hari kiamat.
Hai Fatimah, tetapi yang lebih utama dari semua itu adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Sekiranya suamimu tidak meridhaimu, tentu aku tidak akan mendoakan dirimu.
Bukankah engkau mengerti, hai Fatimah, bahwa ridha suami itu menjadi bagian dari ridha Allah, dan kebencian suami merupakan bagian dari kenbecian Allah.
Hai Fatimah, manakala seorang istri mengandung, maka para malaikat memohon ampun untuknya, dan setiap hari dirinya dicatat memperoleh seribu kebajikan dan seribu keburukannya dihapus. Apabila telah mencapai rasa sakit (menjelang melahirkan) maka Allah mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Apabila telah melahirkan, dirinya terbebas dari segala dosa seperti keadaannya setelah dilahirkan ibunya.
Hai Fatimah, setiap istri yang melayani suaminya dengan niat yang benar, maka dirinya terbebas dari dosa-dosanya seperti pada hari dirinya dilahirkan ibunya. Ia tidak keluar dari dunia (yakni mati) kecuali tanpa membawa dosa. Ia menjumpai kuburnya sebagai pertamanan surga. Allah memberinya pahala seperti seribu orang yang berhajji dan berumrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan untuknya hingga hari kiamat.
Setiap istri yang melayani suaminya sepanjang hari dan malam hari disertai hati yang baik, ikhlas dan niat yang benar, maka Allah mengampuni dosanya. Pada hari kiamat kelak dirinya diberi pakaian berwarna hijau, dan dicatatkan untuknya pada setiap rambut yang ada di tubuhnya dengan seribu kebajikan, dan Allah memberi pahala kepadanya sebanyak seratus pahala orang yang berhajji dan berumrah.
Hai Fatimah, setiap istri yang tersenyum manis di muka suaminya, maka Allah memperhatikannya dengan penuh rahmat.
Hai Fatimah, setiap istri yang menyediakan diri tidur bersama suaminya dengan sepenuh hati, maka ada sreuan yang ditujukan untuk dirinya dari langit, "Hai Wanita, menghadaplah dengan membawa amalmu. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang berlalu dan yang akan datang."
Hai Fatimah, setiap istri yang meminyaki rambut suaminya demikian pula jenggotnya, memangka kumis dan memotong kuku-kukunya, maka kelak Allah memberi minum kepadanya dari rahiqim makhtum (tuak jernih yang tersegel) dan dari suangi yang ada di surga. Bahkan Allah kelak akan meringankan beban sakaratul maut. Kelak dirinya akan menjumpai kuburnya bagaikan taman surga. Allah mencatatnya terbebas dari neraka dan mudah melewati sirath (titian)."
Istriku, coba lihat juga cerita Bilal radhiyallahu 'anhu Mu'adzin Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Saya melewati Fatimah yang sedang menggiling, sementara anaknya menangis." Saya berkata kepadanya, "Jika engkau mau, biar aku yang memegang gilingan dan engkau memegang anak itu. Atau, aku yang memegang anak itu dan engkau memegang gilingan." Fatimah menjawab, "Aku lebih dapat mengasihi anakku dibanding engkau."
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun mengalirkan air mata tatkala melihat Fatimah radhiyallahu 'anha menggiling dengan kedua tangannya sambil menyusui anaknya. "Anakku, engkau menyegerakan kepahitan dunia untuk kemanisan akhirat." Fatimah berucap, "Ya Rasulullah, segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya, dan pernyataan syukur hanyalah untuk Allah atas karunia-Nya."
Istriku, hebatnya Fatimah Az Zahra ini, ia berhasil mendidik dua orang anak-anaknya menjadi pemimpin pemuda di surga, yang satu menjadi istri Umar bin Khattab al Faruq dan satu lagi menjadi penentang Ibnu Ziyad di Padang Karbala.
Subhanallah wabihamdih laa haula walaa quwwata illa billah, aku bacakan kisah ini kepadamu, kekasihku, yang ibunya anak-anakku untuk kita. Bukankah kita baru mulai dan belum lepas dari langkah pertama, jika surga dunia itu ada dalam rumah tangga yang bahagia, bukankah hanya dengan ikhlas dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya dalam mengarunginya?
Masih melanjutkan pembicaraan tentang riba: Bilamana ada sebuah pertanyaan "Tetapi bank juga mengolah uang para nasabah, maka mengapa saya tidak boleh mengambil keuntungannya?"
Benar bahwa bank memperdagangkan/menginvestasikan uang tersebut (ketokan driji nek ora), tetapi apakah sang nasabah ikut melakukan aktivitas dagang tersebut? Sudah tentu tidak. Apabila nasabah bersekutu atau berkongsi dengan pihak bank sejak semula, maka akadnya adalah akad berkongsi, dan sebagai konsekuensinya nasabah akan ikut menanggung apabila bank mengalami kerugian. Seorang teman yang lagi 'promosi' tentang sebuah bank syariah, ketika saya tanya hal tersebut, dia menjawab "oo.. InsyaAllah tidak akan rugi kok mas. Tetep dapet bagi hasil." Hmm..
Tapi kenyataannya, pada saat bank mengalami kerugian atau bangkrut, maka kita, para nasabah, menuntut dan meminta uang kita untuk kembali, dan bank pun tidak mengingkarinya. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa LPS menjamin uang para nasabah yang tersimpan di bank. Sehingga apapun force maejure yang terjadi pada bank, uang nasabah tetap akan kembali.
Ini yang lalu membuat saya berpikir, gak ada bedanya antara bank konvensional dengan kebanyakan bank syariah. Syariah saya kira hanya label saja untuk meng attract penduduk muslim negeri ini yang notabene menjadi mayoritas. Tentang bagi hasil? Ah, itu hanya beda penyebutan saja.
Firman Allah dalam Al Quran:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya." (Al Baqarah 278-279)
Berdasar ayat di atas, saya menyarankan diri saya sendiri dan rekan-rekan yang ‘terpaksa’ harus memakai rekening di bank-bank ribawi, ambillah pokok hartanya saja, dan tinggalkan kelebihannya yang sudah jelas riba itu. Lebih baik lagi adalah, berikan semua kelebihan itu kepada kaum fakir dan miskin.
Istri saya, paling anti dengan yang namanya bekerja di bank. Ketika saya berandai-andai, bagaimana nanti kalau suamimu ternyata bekerja di
Harta dari riba ini, menurut Qardhawi, tidak ada manfaatnya untuk dizakati, karena zakat itu tidak dapat mensucikannya. Yang dapat mensucikan harta ialah mengeluarkan sebagian darinya untuk zakat.
So, bila sudah jelas haram, lalu apa yang harus dilakukan dengan harta riba tadi? Qardhawi menyarankan, ketimbang itu ngendon di bank tersebut dan menjadi milik bank sehingga dapat memperkuat posisi bank dalam bermuamalat secara riba, lebih baik semuanya (riba) di sedekahkan ke kaum fakir dan miskin.
Kemudian saya juga ingin mengutip sebuah hadist, masih terkait dengan riba (diambil dari http://www.alsofwah.or.id):
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam"Allah melaknat orang yang memakan (pemakai) riba, orang yang memberi riba, dua orang saksi dan pencatat (dalam transaksi riba), mereka sama saja". (HR. Muslim dan Ahmad)
Voila. Bunga bank itu tentu saja diberikan oleh bank, sehingga bolehlah kita berikan label: pemberi riba. Siapa pencatat transaksi riba? Ya pegawainya dong. Dan sesuai dengan hadist shohih tersebut, mereka berada dalam laknat Allah.
Sehingga dengan demikian, bilamanakah hukum bekerja di bank? Dalam fatwa alsofwah.or.id tentang hal ini, bekerja di bank ribawi adalah tidak boleh hukumnya sebab bekerja di dalamnya masuk dalam kategori bertolong-menolong di dalam dosa dan melakukan pelanggaran. Allah sudah berfirman:
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Sesungguhnya Allah amat pedih siksaan-Nya”. (Al-Ma'idah:2).
Ok. Lanjut ke bagian terakhir, adalah ancaman Allah dan Rasul-Nya tentang aktivitas ribawi ini. Dari Quran sendiri, coba cek di Al Baqarah ayat 276 dan 279. Untuk kali ini, saya tertarik untuk mencuplik 2 hadist Nabi:
Dosa riba memiliki 72 pintu, dan yang paling ringan adalah seperti seseorang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (Shahih, Silsilah Shahihah no.1871)
"Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari hasil riba dan dia paham bahwa itu adalah hasil riba maka lebih besar dosanya daripada berzina 36 kali". (HR. Ahmad, dengan sanad yang shahih)
Terus terang, saya mendapati hadist ini tidak lebih dari 3 atau 4 minggu yang lalu. Maklum lah, islam abangan. Tapi saya gak bisa membayangkan, ust. Yusuf Mansyur saja bilang bahwa tidak akan barokah hidup kita kalau kita melakukan zina dan tidak bertobat kepada Allah. Lha apalagi riba ini.
Wassalam.
Di sharepoint kantor beberapa hari yang lalu, Bu Vivi (rekan kerja) memposting foto Steve Irwin dan memberinya judul ”selamat jln steve”. Saya pikir cuman iseng saja, tetapi ternyata salah satu orang yang saya kagumi itu benar-benar meninggal karena kecelakaan. Di youtube.com, tiba-tiba saja banyak sekali video dari aksi-aksinya yang mendominasi display untuk rating tertinggi. Publisitas ini sekaligus sebagai perhormatan khalayak atas dedikasinya yang mengagumkan untuk kehidupan satwa liar. Saya yakin memang banyak orang di dunia ini yang sangat kehilangan dia. RIP steve..
Anyway, kehidupan ini rasanya berjalan sangat cepat ya, dan berlalu begitu saja. Tidak ada yang menyangkalnya, atau bahkan menyadarinya. Bayangkan diri kita ketika menginjak kelas 4 SD. Rasanya itu baru kemarin saja dilalui, dan tahu-tahu sekarang sudah menjadi kepala keluarga (seperti saya). Kemarin rasa-rasanya baru merasakan belaian ibu, sekarang malah sudah mempunyai 2 orang putra. Anggota keluarga kita yang kemarin baru saja bercanda dengan kita dan tidak nampak sakit/lelah, tiba-tiba meninggalkan kita untuk selamanya.
Setelah kehidupan dunia berlalu, manusia akan memasuki kehidupan selanjutnya yaitu alam akhirat, dimana segalanya akan diperhitungkan dengan seadil-seadilnya oleh Sang Maha Adil. Makanya kita boleh terheran-heran dengan pola laku manusia sekarang-dengan kerusakan alam yang ditimbulkan dan makin hilangnya rasa malu dari diri.. Apa gerangan yang membuat mereka bertingkah sedemikian rupa seakan-akan mereka hidup selamanya dan tidak akan meninggalkan dunia ini?Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. (3:30)
Di pagi hari yang seharusnya bersantai
Engkau masuk sekolah dan mengajar..
Di siang hari yang seharusnya untuk istirahat
Engkau masih ada di sekolah..
Ohh..betapa besar jasamu
Tak sebanding dengan gajimu